Digital Panel: Webcomics & Graphic Stuffs

Jelajah seni dan imajinasi dalam kanvas tak berbatas

Ray Hanania’s World: Pesan Saja Tidak Cukup

with one comment

Ya, ini soal kartun politis dan konflik Israel-Hamas di Gaza lagi. Setelah kemarin membahas komik Dry Bones dan Bendib, bung Jensen kembali memberitahukan mengenai komik-komik karya Ray Hanania.

Siang ini saya barusan blogwalking lagi, dan tiba di blog milik Ray Hanania. Beliau reporter politik & komikus kawakan di AS; seorang Palestina-Amerika yang beristrikan seorang Yahudi. Biodata beliau ada disini juga.
Nah, komik strip karya Ray Hanania ini IMO pro-Palestina (pada tema konflik Gaza), dan saya rasa bagus juga kalo saya pajang disini.

Seperti biasanya, saya tidak akan meresensi komik ini, tapi ada beberapa hal yang menarik perhatian saya:

Yang paling jelas kelihatan dalam pandangan pertama adalah: Gambarnya jelek! Silakan lihat sendiri contohnya di blognya bung Jensen atau di beberapa sampel yang saya sertakan di bawah ini; anda pasti mengamininya. Di satu sisi, ini wajar mengingat Ray Hanania ini bukan benar-benar komikus; pekerjaan yang tercantum di biodatanya adalah jurnalis, komedian, pembuat film, dan penyiar radio. Tapi tetap saja itu bukan alasan baginya untuk membuat gambar yang eh… benar-benar tidak mengesankan.

Sangat disayangkan, karena dari sisi konten ia relatif lebih bagus dibanding Dry Bones dan Bendib. Tidak seperti dua komikus sebelumnya yang kebanyakan mengulas hal-hal yang sudah umum diketahui orang, Hanania menyampaikan pesan yang cukup orisinal dan kreatif. Dan ia juga tidak terkesan fanatik atau ‘meledak-ledak’ seperti Bendib (yang juga pro-Palestina); Hanania juga cukup kritis dan sarkastis dalam menyorot kaum ekstrimis/fundamentalis di kubunya sendiri…sesuatu yang membuat saya makin menyesalkan kenapa Hanania terlihat ‘nggak niat’ dalam menggambar komiknya ini. :?

Anggaran Amerika untuk Israel

Anggaran Amerika untuk Israel

Kritik terhadap Hamas

Kritik terhadap Hamas

Bush bin Laden?

Bush bin Laden?

Written by Catshade

Kamis, 15 Januari 2009 pada 3:24 am

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ni komik tidak perduli terhadap gambar sehingga kekuatannya ada pada dialognya.
    Salam kenal

    cenya95

    Kamis, 15 Januari 2009 at 12:53 pm


Tinggalkan Balasan