Seandainya Garfield Kucing Beneran…
Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya di resensi Garfield Minus Garfield, ada banyak kartun parodi lainnya yang mengedit strip asli komik Garfield. Salah satunya saya tampilkan di bawah ini (tidak diketahui siapa pembuatnya atau sumber aslinya), yaitu Garfield yang ‘diubah’ jadi kucing yang sebenar-benarnya kucing. Semangat editannya serupa seperti Garfield Minus Garfield (Jon adalah orang gila yang berkhayal tentang Garfield), tapi yang ini kok terasa lebih mengenaskan ya… ^^;
minus.: Kekuatan yang Besar Membutuhkan Komik yang Besar
Apa yang akan anda lakukan jika anda memiliki kemampuan untuk melakukan apapun dan mewujudkan apa saja… sebuah kekuatan super yang hampir tak berbatas? Dan apa yang terjadi bila kekuatan itu dimiliki oleh seorang anak kecil yang lugu? Ryan Armand menggoreskan petualangan sehari-hari si anak itu dalam minus., webcomic ‘berukuran XL’ dan berhiaskan seni warna ala cat air nan ciamik.
Garfield minus Garfield: Komik Ternama Tanpa Bintang Utama
Siapa yang tak kenal Garfield? Kucing oranye gendut yang pemalas dan suka lasagna ini telah memikat hati jutaan penggemarnya sejak komik stripnya pertama kali diterbitkan tahun 1978. Yang menarik perhatian mereka tak lain adalah kelucuan interaksi Garfield dengan Jon Arbuckle, majikannya yang rada tolol dalam hal percintaan dan tak punya sense of fashion, serta Odie, seekor anjing goblok yang jadi piaraan lain Jon dan sering diusili Garfield.
Lalu bagaimana kalau Garfield dan Odie (serta tokoh-tokoh lainnya) dihilangkan dari komik itu hingga tinggal Jon sendirian?

Poor Garfield... ;_;
Ray Hanania’s World: Pesan Saja Tidak Cukup
Ya, ini soal kartun politis dan konflik Israel-Hamas di Gaza lagi. Setelah kemarin membahas komik Dry Bones dan Bendib, bung Jensen kembali memberitahukan mengenai komik-komik karya Ray Hanania.
Siang ini saya barusan blogwalking lagi, dan tiba di blog milik Ray Hanania. Beliau reporter politik & komikus kawakan di AS; seorang Palestina-Amerika yang beristrikan seorang Yahudi. Biodata beliau ada disini juga.
Nah, komik strip karya Ray Hanania ini IMO pro-Palestina (pada tema konflik Gaza), dan saya rasa bagus juga kalo saya pajang disini.
Seperti biasanya, saya tidak akan meresensi komik ini, tapi ada beberapa hal yang menarik perhatian saya:
Bendib: Kartun Islam dan Kritik Sosial-Politik
Setelah kemarin sedikit diulas tentang Dry Bones, komik Israel yang sarat muatan politisnya (trims untuk Mas Jensen yang mengabarkannya), kini giliran Amed yang membalasnya ikut-ikutan mengabarkan komik serupa… tapi dari sisi yang berseberangan.
Kalo Mas Jensen menulis dari sudut pandang kartunis Israel, saya kali ini coba mengangkat kartunis Muslim dari Amerika Serikat, pen name-nya Bendib. Sudah sejak lama saya berlangganan kartunnya, sekitar pertengahan 2006, kalau tidak salah saya kesasar di sini gara-gara peristiwa Lebanon.
Dry Bones: Komik Israel dan Propaganda Bergambar
Jensen99, seorang blogger Papua yang pro-Zionis itu
, mengabarkan mengenai Dry Bones, sebuah komik strip karya seorang Israel yang banyak menyorot masalah-masalah politik, termasuk masalah Israel-Palestina… dari sudut pandang Israel tentu saja.
Saya lupa asal mulanya gimana, tapi hari ini saya tiba di blog milik seorang Israel: Yaakov Kirschen. Beliau seorang kartunis yang lumayan terkenal, dan menulis entri (yang sebenarnya menjelaskan gambar kartunnya) dalam bahasa Inggris. Isinya sudut pandang seorang Israel (Kirschen, tentu saja
) terhadap isu-isu politik yang terjadi di negara dia dan di dunia; yang pernah maupun yang sedang terjadi. Sudah pasti termasuk konflik Gaza sekarang.
Karena muatannya yang seringkali sangat kontroversial dan subyektif, saya tidak akan meresensinya dulu untuk saat ini. Beberapa contoh stripnya yang terkait dengan perang terkini di jalur Gaza bisa anda lihat di blognya Jensen, sementara di sini saya akan memberikan beberapa sampel stripnya yang membahas soal ‘lain’.
xkcd: Kesederhanaan, Cinta, dan Matematika
Kadang kala, tidak butuh seni tingkat tinggi atau gaya gambar yang rumit untuk membuat komik. Sama seperti fashion atau desain interior yang punya aliran minimalis, banyak orang yang mencoba membuat webcomic dengan aliran yang paling minimalis pula: stick figure alias gambar orang-orangan yang dulu kita coret-coret di dinding waktu masih kanak-kanak dan belum diajari menggambar di sekolah. Bagaimana menyampaikan sesuatu lewat gaya gambar yang sesederhana itu? Mari kita simak salah satu webcomic bergaya stick figure yang paling terkenal, xkcd.

Intisari xkcd dalam 4 panel
Spamusement: Mengubah Sampah Jadi Komik
Inspirasi dalam membuat komik bisa datang dari mana saja; pengalaman sehari-hari, berita yang sedang hangat, atau referensi budaya pop. Tapi butuh kreativitas (dan ketahanan mental) tersendiri untuk membuat komik dari judul e-mail SPAM seperti Spamusement.

Judul: GIVE HER MORE MEAT
Flipside: Kisah Dewasa Tentang Dua Wanita
Setelah memberikan pengantar mengenai komik bersambung digital, berikut adalah resensi pertama saya mengenai Flipside, sebuah webcomic lawas yang memiliki format bersambung layaknya bundelan komik berjilid yang biasa kita temukan di toko-toko buku. Apa sebenarnya Flipside itu? Untuk kali ini biarlah Brion Foulke, pengarangnya sendiri, yang memberikan penjelasan ringkas.
Flipside is a story about relationships, sex, and compromise. It’s a romantic fantasy adventure with a lot of action, and a small dose of horror. Mainly, it’s the story of these two women:

Two women and a supporting cast, that is.
Publikasi Komik Bersambung di Era Web
Banyak komikus web membuat webcomic-nya ala komik strip (contohnya adalah tiga webcomic yang diresensi sebelum ini) yang biasa kita temukan di halaman belakang koran-koran. Maksudnya? Coba perhatikan komik-komik yang menghiasi halaman belakang Kompas setiap hari dan setiap minggu. Kecuali satu (Amazing Spider-Man), komik-komik tidak punya satu jalan cerita besar yang bersambung dari satu edisi ke edisi lainnya, melainkan hanya berupa sketsa/skit pendek yang langsung selesai di panel terakhir.
Tentu membuat komik semacam itu bukannya tanpa pertimbangan; komik yang terbit per-halaman yang dan punya cerita bersambung berisiko akan kesulitan mendapat pembaca baru (karena tidak tahu bagaimana cerita sebelumnya), danĀ ‘memaksa’ pembacanya untuk terus mengikuti setiap hari/minggu kalau tidak mau ketinggalan (karena, dari pengalaman saya, sulit sekali mencari koran edisi kemarin kalau anda tidak berlangganan). Kalau kelewatan beberapa halaman saja, mungkin mereka sudah bingung bagaimana ceritanya dan akhirnya malas meneruskan membaca komik itu.
Tapi format webcomic menghilangkan dua kekurangan dari penerbitan komik periodikal itu. Bahkan walaupun anda cuma menerbitkan panel/halaman baru setiap sebulan sekali, pembaca baru bisa dengan mudah melihat arsip komik anda dan mengejar ketertinggalannya. Begitu juga dengan pembaca yang tidak rutin mengikuti komik anda; dengan fitur seperti RSS Feed atau mailing list, mereka juga bisa segera tahu begitu halaman terbaru komik anda dipublikasikan. Ditambah lagi, anda tidak terbatas pada empat panel, dua baris panel, atau format kertas tertentu seperti pada komik cetak; anda secara teoritis bisa membuat halaman komik selebar atau sepanjang apapun yang anda mau, atau berganti-ganti format halaman di tiap publikasinya.
Jadi…begitulah. Ada banyak webcomic di luar sana yang tampilan dan ‘rasanya’ seperti novel grafis atau komik-komik terbitan Elex/MnC pada umumnya. Nantikan resensinya di sini.
Catatan: Post ini pada mulanya adalah pengantar dari sebuah resensi, hanya saja karena dalam perkembangannya menjadi terlalu panjang, akhirnya saya pisah menjadi tulisan tersendiri. Maaf kalau terasa agak aneh. 


